Lamongan mendapatkan Proyek IPDMIP

RPJMN 2015 – 2019 memprioritaskan peningkatan peningkatan produktivitas tanaman pengan, melalui revitalisasi penyuluhan pertanian dan produksi benih; perbaikan irigasi melalui rehabilitasi 25 waduk dan 3 juta Ha jaringan irigasi, perbaikan pengelolaan irigasi, perbaikan efisiensi pengggunaan air irigasi dan pelaksanaan pengelolaan irigasi partisipatif pada proses perencanaan provinsi dan kabupaten/kota; dan pembangunan 1 juta Ha jaringan irigasi baru di luar Pulau Jawa dan serta 47 waduk baru di daerah hulu. Berdasarkan draft Alokasi Kegiatan Upaya Khusus – Upsus Kementrian Pertanian, akan fokus kepada pembangunan jaringan irigasi, pengembangan padi, jagung dan kedelai melalui satu kombinasi penggunaan pupuk intensif, system of rice intensification (SRI) dan peneglolaan hama dan penyakit terpadu (integrated pest and disease mnagement –IPDM), penyediaan sarana produksi (misalnya kombinasi mesin penuai, pengering, pengirik, traktor tangan, pompa air, unit gilingan padi) dan pasca panen (misalnya gudang) serta dukungan pada agribis.

Dasarv pemikiran Kegiatan Integrated Prticipatory Development dan Management of Irigation Project (selanjutnya disebut kegiatan IPDMIP), ialah untuk secara penuh merealisasikan potensi pengurangan kemiskinan pertanian beririgasi, dengan pengalaman dari PISP, WISMP dan kegiatan lainnya, dengan satu pengertian bahwa kenyataan berikut merupakan faktor – faktor yang menghambat peningkatan produktivitas petani penggarap di indonesia ; (i) Kelembagaan petani, air dan irigasi lemah; (ii) Sistem irigasi kurang dan buruk pemeliharaannya ; (iii) Kurang tenaga dan lemahnya penyuluhan pertanian; (iv) Prasarana kurang dan buruk pemeliharaannya; (v) Akses petani penggarap kepada sumber pembiayaan desa terbatas; (vi) Kepemilikan lahan tidak jelas; (vii) Kesenjangan teknologi, dan (viii) Potensi komoditas bernilai tinggi terabaikan.

Pemerintah Republik Indonesia meminjam dari ADB sebesar 600 juta untuk mendanai program rehabilitasi dan peningkatan infrastruktur irigasi mulai tahun 2017 hingga 2022. Pada tahap penyusunan program telah disepakati bahwa pinjaman ADB untuk IPDMIP akan menggunakan skema Result Based Leading (RBL) atau pinjaman yang berbasis hasil atau output . Artinya ADB akan menyerahkan pinjaman secara bertahap sesuai dengan pencapaian hasil pelaksanaan program oleh Pemerintah. Untuk itu telah disepakati 8 (delapan) indikator penarikan pinjaman yang selanjutnya disebut sebagai Disbursement Linked Indicators (DLI) sebagai acuan pencapaian untuk penyerapan pinjaman.

Pinjaman RBL-IPDMIP ini mendukung rencana pengelolaan dan pengembangan sistem irigasi di 74 Kabupaten di dalam 16 Provinsi di Indonesia, periode 2017 – 2011. Total anggaran program ini diperkirakan Rp. 22 triliun yang diperkirakan bersumber dari Pemerintah Indonesia (APBN dan APBD) sebesar Rp. 14 triliun, ADB dan AIF sebesar Rp. 8 triliun dan donor lainnya sebesar Rp. 132 milyar.

Beberapa prinsip di dalam pinjaman berbasis hasil ini (RBL) antara lain adalah :

  1. RBL mendukung program sektor pemerintah yang telah dituangkan di dalam dokumen perencanaan pemerintah
  2. RBL membiayai Kerangka Anggaran Program atau RPJM
  3. Sistem pencairan pinjaman RBL, berdasarkan capaian hasil bukan berdasarkan belanja
  4. RBL mendukung penggunaan dan peningkatan sistem yang berlaku di Indonesia (uyg).