5 Tantangan Menteri Keuangan Baru, Sri Mulyani

Presiden Joko Widodo merampungkan perombakan Kabinet Kerja jilid II, kemarin. Wajah-wajah lama dan baru tampil mengisi jabatan menteri bidang ekonomi, pendidikan, politk, hukum, dan keamanan serta kesejahteraan rakyat. Salah satunya adalah Sri Mulyani Indrawati, yang kembali menduduki kursi Menteri Keuangan.

Mampukah mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjadi harapan baru untuk perbaikan ekonomi nasional? Ekonom Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, menilai Sri sebagai kekuatan baru dalam kabinet Jokowi. Di tengah impitan jurang fiskal dan berjalannya program pengampunan pajak, kata Tony, Sri telah meraih kepercayaan pasar. “Pasar mendengar apa yang ia katakan,” katanya.

Berikut lima tantangan menteri keuangan yang baru.

  1. Menggenjot penerimaan pajak yang lambat. Hingga pertengahan tahun, pendapatan pajak baru 33,8 persen dari target. Perlu ada inovasi, perluasan target pajak, penegakan hukum, sampai memperkaya basis data perpajakan.
  2. Mengawal program pengampunan pajak. Selain mengejar tambahan penerimaan negara, Sri Mulyani harus mengawal kepatuhan pelaporan data dan aset, yang menjadi tujuan utama program pengampunan pajak.
  3. Mempercepat penyerapan anggaran. Masalah struktural dan kelembagaan menjadi salah satu sebab rendahnya penyerapan anggaran. Sri Mulyani harus mencari cara untuk melecut optimalisasi belanja, terutama pada lembaga-lembaga strategis.
  4. Menjaga proporsi utang. Tahun depan, Sri Mulyani bakal berhadapan dengan banyaknya utang luar negeri yang jatuh tempo. Dia juga mesti menjaga proporsi utang untuk membiayai belanja negara.
  5. Mengendalikan “obrol” stimulus fiskal. Sejak awal, pemerintah Presiden Joko Widodo mengobral aneka kemudahan fiskal untuk menarik investor. Sri Mulyani diharapkan mampu menjaga keseimbangan gula-gula investasi dengan pencapaian target. (sumber : Tempo)